Sekolah: Untuk Cari Ilmu atau Cari Duit?

Pernah tau pengusaha es krim yang lulusan Teknik Nuklir ITB? atau broker saham yang lulusan Teknik Sipil? kadang2 orang2 seperti mereka membuat kita bertanya…lah buat apa skula tinggi2 di jurusan bergengsi kalo akhirnya kerja di bidang yang ‘gak nyambung’?

di dunia ini, menurut pengamatan saia, orang sukses nan dihormati itu dibagi menjadi dua: ORANG BERPRESTASI dan ORANG KAYA. orang2 semacam Habibie, Cak Nur, dan sederet cendekiawan lain masuk golongan pertama. sedangkan Pak Ciputra, Om Ical (Aburizal Bakrie), dan sederet entrepreneur sukses lainnya masuk golongan kedua.

bukan berarti Pak Habibie itu nggak kaya dan Pak Ci itu nggak pintar, karena jelas keduanya memiliki bakat yang sama untuk jadi ORANG PINTAR sekaligus ORANG KAYA. Hanya saja, Pak Habibie mungkin lebih pantas disebut ILMUWAN KAYA sementara Pak Ci adalah PENGUSAHA CERDAS.


artinya, apa yang menjadi prioritas kehidupan kedua orang itu berbeda, walaupun toh pada akhirnya mereka mendapatkan keduanya. PINTAR dan KAYA. Waa, kurang apalagi sih?^^

lalu, apa hubungannya nih sama sekolah?

Teman2 lihat, banyak pengusaha2 sukses yang pendidikannya nggak tinggi2 amat. Andrie Wongso yang bergelar SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat) saja bisa jadi pengusaha kartu nama Harvest yang terkenal itu…wuaaa… Di sisi lain, banyak juga sarjana2 pengangguran, lebih parah lagi dari PTN terkemuka, waduh2 sungguh disayangkan…

apa itu berarti ORANG PINTAR belum tentu KAYA dan ORANG KAYA belum tentu PINTAR? lantas mana yang lebih penting, KEPINTARAN atau KEKAYAAN? Mana di antara dua hal itu yang dapat dicapai dengan SEKOLAH?

Menjawab pertanyaan pertama, saia rasa pendapat itu memang benar, malah rasanya itu adalah ‘ketidakpastian yang paling pasti’ (pinjem istilahnya Eyang Einstein^^). ada orang yang memang prestasi akademiknya mentereng, tapi kurang ‘peka’ soal ‘insting cari duit’. Ada juga yang gak pinter2 amat, tapi pandai membaca setiap peluang yang menghasilkan rupiah. yang paling untung, tentu yang punya dua2nya. macam Bill Gates dan Soichiro Honda gitu.

Jawaban pertanyaan kedua, rasanya cukup sulit. Di antara kepintaran dan kekayaan, gak ada yang lebih penting dari yang lain. Kenyataannya, kepintaran dan kekayaan itu saling melengkapi, saling tarik-menarik, saling mendukung. Ada uang bisa sekolah sampai pintar. Kalau sudah pintar bisa cari uang. Begitu terus, seperti lingkaran setan (malaikat?) yang gak berujung.

Pertanyaan ketiga, ini nih yang seru. Apa yang bisa dicapai dengan sekolah—kepintaran atau kekayaan? Sebetulnya semua itu relatif, tergantung APA TUJUAN AWAL teman2 pelajar BERSEKOLAH?

Jika Teman sekolah untuk menjadi pandai, maka Teman akan berusaha menggenjot prestasi akademik dan mempelajari semua pelajaran. Teman akan selalu haus ilmu. Teman selalu ingin lebih tahu. Teman akan selalu berpikir kritis dan merenungkan berbagai hal yang terjadi di sekitar Teman. Jenis sekolah Teman biasanya adalah sekolah2 umum yang favorit, dan perguruan tinggi yang beken dan berprestasi. Tipe pelajar seperti ini, di masa depan kebanyakan akan jadi profesor, cendekiawan, dan para profesional di bidangnya.

Lain halnya jika Teman sekolah agar bisa meningkatkan kesejahteraan. Teman akan cenderung ‘memilih2 ilmu’. Mempelajari yang disuka saja, kemudian mencari aktivitas sampingan yang teman senangi. Bagi Teman, pelajaran bukanlah yang terpenting. Sekolah adalah tempat bergaul, cari koneksi, mempelajari hal2 baru dalam kehidupan. Jenis sekolah Teman biasanya sekolah2 umum standar atau kejuruan, dan perguruan tinggi ‘cepat kerja’. Tipe pelajar seperti ini di masa depan cenderung jadi pengusaha sukses di bidang yang ‘tak terduga’.

Kadang2 ada pelajar yang masih bingung dengan (atau mungkin tidak memikirkan) tujuan sekolahnya—clever oriented atau wealth oriented? Di masa depan mereka biasanya akan menjadi seperti yang telah saia sebutkan tadi—broker saham lulusan teknik sipil atau tukang es krim lulusan teknik nuklir.

Teman2 sendiri bagaimana? Kira2 apa tujuan sekolah Teman? Apapun tujuan Teman, tetapkan mulai sekarang, supaya di masa depan nanti Teman bisa sukses besar, sukses yang ‘gak nanggung’, sesukses Pak Habibie dan Pak Ciputra. Karena biasanya, orang yang SUKSES adalah orang yang FOKUS, tahu pasti KE MANA dia akan melangkah dan tidak tergoda untuk BERBELOK di tengah jalan^^. Smangadh!!!

About these ads

6 Komentar

  1. kalo mnurut SAHABAT (jah..), setiap orang punya potensi keduanya, ke arah sukses. Dan setiap org punya jiwa berwirausaha. Mungkin sistem pendidikan agak kolot (tertama yg negeri) dan nggak ngebebasin anak didiknya u/ ke sonoh. Yg bikin gw ngiri, di Jkt ada muatan lokal event organizer, di kota gw mah boro-boro. Dan knp selalu Jkt? hooo ngirinya daku.

  2. kl bisa cari ilmu dan cari duit. untuk urusan kaya sepertinya keberuntungan dan kerja keras lebih berperan. sekolah formal sendiri lebih berperan dalam urusan pergaulan dan koneksi di masa mendatang.

  3. baru tau gue ada teknik nuklir itb. sejak kapan ya?

  4. wow…kalimat ” ilmuwan kaya dan pengusaha cerdas”,keduanya kolaborasi kalimat yg menggugah inspirasi.

  5. wow…kata yang menggugah inspirasi ” ilmuwan kaya & pengusaha cerdas ” good !!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.