Sekolah Islam Kok Matre?

Ini adalah bagian dari kekecewaan saia sebagai muslim berpendidikan, yang tinggal di Kota Pelajar…

Malang, sebagai gudangnya sekolah bagus nan murah (menurut saia^^) belakangan ini makin terbawa tren komersialisasi pendidikan. Parahnya, gejala ter‘akut’ malah dialami oleh lembaga pendidikan berlabel Islam. Lembaga yang—katanya—selalu menyerasikan penguasaan IPTEK dan IMTAQ itu…

Langsung buka rahasia yah… Teman2 yang tinggal di Kota Malang tentu tahu kompleks sekolah Islam bergengsi yang ‘nangkring’ di Jalan Bandung? Yep, apalagi kalo bukan kompleks Madrasah Terpadu.
Di sana berjejer 3 madrasah negeri megah, mulai MI sampai MA, plus 1 BA (setingkat TK) mewah.

Bukan rahasia lagi kalau madrasah2 itu termasuk sekolah ‘elit’, jenis sekolah yang hanya bisa dimasuki orang2 berduit. Tidak berlebihan lah disebut begitu. Tahun ini saja, uang pangkal untuk masuk MI-nya minimal 4 juta. MTs-nya mematok 6 juta. MA-nya 7 juta. SPP MTs berkisar 450 ribu per bulan, sudah termasuk uang makan. Waa, sungguh jumlah yang mencengangkan…

Dari segi fasilitas, madrasah2 itu memang unggul. Gedungnya luar biasa megah, apalagi untuk ukuran SD/SMP. Dinding pembatas MTs dan MA dicat grafiti. Di setiap kelas ada TV, VCD, wastafel, dan loker. Kelas akselerasi malah ditambah sofa, kulkas, dan 5 komputer LCD. Stasiun televisi dan radio sekolah pun juga ada.

Masalahnya, jor-joran fasilitas bukanlah jaminan sebuah sekolah akan berkualitas baik. Jika SDM guru dan proses belajar mengajarnya begitu2 saja, apalah artinya fasilitas. Sebenarnya, sikap ‘jual mahal’ itu malah bisa merugikan madrasah sendiri. Bibit2 unggul yang sedianya masuk ke sana akan terhenti karena tingginya biaya. Akhirnya, madrasah pun hanya mendapat input siswa2 yang—kaya sih, tapi tidak terlalu pandai. Prestasi madrasah pun ikut jadi taruhan.

Sedih rasanya melihat kenyataan itu. Apalagi saia sendiri juga pernah mengalami 8 tahun pendidikan dasar di sana. Sekarang, wali murid yang ingin anaknya pintar sekaligus alim terpaksa mengalihkan pilihan ke sekolah umum. Bukan apa2, biayanya memang jauh lebih murah. Bisa kurang dari separuhnya. Mutunya pun jelas lebih terjamin. Nah, bagaimana kita bisa mengharapkan moral generasi muda yang baik jika untuk masuk sekolah agama saja harus ‘dicegat’ dengan biaya selangit?

Menurut teman2 sendiri bagaimana?

1 Komentar

  1. Jangan salah, walaupun mahal, guru-gurunya belum tentu sejahtera. Apalagi jika dikelolah oleh orang-orang partai Islam. Saya pernah mengajar di sekolah seperti itu. Kebanyakan guru-gurunya tidak tidak capability. Tapi mereka sami’na wa atha’na. SDIT itu kan Sekolah Dengan Iuran Termahal.SMPIT itu kan Sekolah Milik Partai Islam Tertentu.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s