Belajar Nikmat tanpa Tekanan

Biarpun sudah tugasnya, tidak semua pelajar senang belajar. Apalagi pelajar SMP-SMA, wuahhh…memang lagi males2nya^^ Teman mungkin menganggap belajar adalah sesuatu yang melelahkan, menjemukan, mengerikan…yang jelas tidak ada yang bisa ‘dinikmati’ dari pelajaran. Hmm…benarkah begitu?
Tidak juga. Pada dasarnya belajar terasa ‘negatif’ karena sejak awal mindset kita menganggapnya sebagai ‘paksaan’. Penyebabnya, belajar dilakukan hanya untuk ujian. Jika tidak lulus, maka REMIDI pun siap menanti. Inilah yang membuat belajar menjadi momok. Jika Teman mengubah pola pikir ini, sebenarnya belajar pun bisa dibuat fun. Ujung2nya, prestasi akan mudah diraih
Agar bisa menikmati proses pembelajaran, kita harus kembali ke HAKIKAT BELAJAR. Mengapa kita belajar? Untuk apa kita belajar?

1. Belajar Bukan Hanya Untuk Ujian
Jika Teman belajar hanya untuk memenuhi standar nilai ujian, maka secara tidak langsung teman akan terbebani dengan target itu. Misal, sekolah Teman menetapkan nilai ujian siswa minimum harus 7,5, jika tidak mencapai itu maka Teman harus remidi. Target itu memang bisa membuat Teman belajar, tapi tidak dengan senang. Kecuali jika Teman membuat target itu sendiri dengan sukarela, maka tidak ada masalah.
Sebetulnya penetapan target oleh sekolah ini bertujuan baik, tapi kadang juga membuat pelajar merasa tertekan. Untuk mengatasinya, cobalah tidak terlalu memikirkan hal itu. Membayangkan hukuman, remidi, nilai jelek, hanya akan membuat Teman stres saat belajar, sehingga akhirnya malah tidak bisa berkonsentrasi.

2. Belajar Karena Ingin Tahu
Jika bukan ujian, lalu apa yang membuat kita belajar? Tentu saja karena kita ingin tahu. Sebetulnya, materi2 yang Teman pelajari di sekolah sungguh menantang, jika saja Teman bisa menemukan sisi menariknya.
Sebagai contoh, mungkin selama ini Teman (seperti saya^^) menganggap Fisika sebagai momok. Memang, hitung2an yang kerap keluar di soal ujian bikin pusing kepala. Namun, cobalah melihat sisi menarik Fisika. Baca pengetahuan populer tentang Fisika, pasti Teman akan menemukan sesuatu yang menarik. Misalnya, bagaimana teori relativitas Einstein bisa membuat seseorang menjadi ‘awet muda’. Atau bagaimana hukum Termodinamika bisa mengawetkan orang yang sudah ‘mati’ untuk kemudian ‘dihidupkan’ kembali.
Hal2 menarik ini akan membuat Teman penasaran, sehingga akhirnya berusaha mencari tahu sendiri. Walaupun tanpa dipaksa, walaupun toh tidak keluar di ujian. Ini akan membuat proses belajar Teman terasa lebih menyenangkan.
Bukankah ini alasan sesungguhnya mengapa kita belajar? Karena kita selalu dan selalu ingin tahu. Bukan begitu?

3. Belajar untuk Menerapkan Ilmu
Apakah sebenarnya tujuan belajar? Apakah hanya untuk memperoleh nilai memuaskan dalam ujian? Lalu setelah ujian, akan dikemanakan ilmu kita?
Inilah yang kadang menjadi ironi pendidikan. Pelajar belajar hanya untuk mendapat nilai, setelah itu, selesai. Nilai ujian inilah yang kadang bisa menjadi target ‘menyesatkan’.
Nah, agar Teman tidak stres saat belajar karena memikirkan nilai, ada baiknya Teman renungkan ilmu apa yang akan Teman dapat dengan pelajaran ini. Sebagai contoh, Teman ogah2an belajar Biologi. Coba Teman lihat masalah2 di lingkungan sekitar Teman dan pikirkan bagaimana Biologi bisa mengatasinya. Misalnya, ayah Teman mengidap obesitas dan perlu diet. Tidak perlu kan Teman membuang uang untuk konsultasi ke pakar nutrisi jika Teman menguasai Biologi dengan baik. Pikirkan bahwa Teman bisa membantu orang2 di sekitar Teman dengan ilmu yang Teman pelajari. Yakinkan diri Teman bahwa ilmu itu sangat bermanfaat, jauh lebih berharga daripada hanya sekedar selembar kertas ujian. Itu akan membuat Teman belajar tanpa harus merasa tertekan.

Begitulah, Teman. Sebetulnya sungguh mudah belajar dengan menyenangkan. Intinya, belajarlah secara aplikatif dan jangan terlalu terbebani dengan ujian. Menurut Teman2 sendiri bagaimana?

6 Komentar

  1. Masalahnya adalah, pendidikan kita nggak menyediakan sarana belajar yang benar-benar sesuai dengan minat kita.

    Kebanyakan hanya masalah akademik yang itu-itu saja. (settingan standard-nya/ default-nya= Lab Bahasa, Kimia, Fisika, Biologi, DLLDLL).

    Lebih enak lagi kalau kita mengambil mata pelajaran yang kita inginkan saja sejak sekolah menengah, biar fokus dan bisa belajar dengan suka hati.

    Sekarang siapa yang benar-benar minat sama Mat, Fis, Bio? Paling cuma secuil

    Kalau kita diberi kebebasan memilih, saya yakin kita akan tekun belajar dengan sendirinya, tanpa paksaan

  2. q stuju bgt…
    Walaupun ju2r sampai skr q msh blum terlalu bisa mengontrol “niat jahat”
    “niat jahat” = nyontek ato bekerja sama
    selaim motivasi diri, teman belajar memang penting. jd kita smakin sadar kalua kita gak tau

  3. itulah masalahna…kadang skula2 di Indonesia terlalu ‘menganakemaskan’ mapel2 tertentu. pengalaman pribadi, di SMA saya dulu, dalam 1 angkatan ada 7 kelas IPA (2 di antaranya kelas internasional) dan HANYA SATU kelas IPS, itupun dengan jumlah murid HANYA 11 SISWA. bukan karena IPS kurang peminat, tapi karena banyak anak yang rada ‘gengsi’ masuk IPS, sungguhpun mereka sebenarnya suka IPS (kayaknya saia termasuk nih^^) Skula saia.pun tidak berusaha memperketat seleksi masuk IPA, sehingga jadilah kelas IPS seperti kelas ‘buangan’, padahal isinya juga bukan anak yang tidak pintar.

    di hi-school luar negeri kalo gak salah sudah pakai sistem seperti itu yah? murid boleh ambil mata pelajaran sesuai pilihannya…jadi gak cuman sesuai jurusan ajah

  4. beljar merupakan kewajiban bagi kita, kalau pingin bangsa ini lebih baik maka kita harus mau dan berani untuk belajar, soalnya sekarang ini banyak diantara kita yang takut jadi orang pintar, buktinya kita lebih suka keluyuran malam-malam atau nonton tv dibandingkan duduk termenung di depan buku.kalau di sekolah kita juga takut kalau pak guru masuk malah kita lebih merasa enak andaikan hari itu tidak masuk kelas. jadi wajar saja kalau kita susah untuk menjadi orang pintar.

  5. bener sih kalo belajar ky gt enak, tapi bgmn klo belajar di skul tanpa guru? Lebih baik belajar di rmh udh gk berisik truz gk terlalu tertekan. Saya kecewa karena kebanyakan guru di sd-smp negri tidak mengajar. misal seperti belajar aritmatika, apa mungkin bagi anak yg blm mengerti soal atau cara belajar sendiri. Terkadang kita butuh sang guru pengajar untuk mendalami sebuah pelajaran agar kita cepat paham. Terus klo tanpa ada guru yg niat mengajar, bljr dngn les/privat? Hanya orang yg mampu saja yg bs. Saya hanya berharap agar sekolah negri lebih baik dengan guru yg baik jg, karena saya tak bs belajar dengn guru yg penuh emosi. thank you

  6. It is strange how many different websites there are on this topic.

    I don’t know if I will have to come back, but it is great to know I found the one that provides some valuable info if this should come up for me another time.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s